Friday, March 11, 2011
‘The Power of The Dream’ lagu Celine Dion, lagu yang dahsyat dan penuh inspirasi, menguatkan dan memberi dorongan semangat, kemarin2 buatku sempat terasa bagaikan sebuah lagu tak berpengharapan. Lagu ini benar2 membuatku melow hingga selama beberapa waktu kuhapus dari mp3 list-ku. Tapi hari ini aku tahu, lagu ini tidak lagi membuatku melow. Aku sudah bisa menikmatinya lagi.
Aku tahu segala sesuatu perlu waktu, perlu proses. After 3 months finally I found that everything has been back to normal.
Aku tahu aku bisa melewatinya dengan baik. Sekarang2 ini aku tidak lagi harus bersembunyi ataupun melarikan diri lagi karena aku sudah siap menghadapi dan kurasa aku baik2 saja.
Tidak ada yang berubah, masih tetap menyenangkan dan penuh canda tawa. Hanya saja sekarang aku tahu ada batasan2 yang tak boleh kulanggar.
Yeaaah.... ready to the next project.
Thx God. Aku tahu ini semua berkat campur tangan-Mu.
Dan tentang waktu pula, setelah sekian lama, akhirnya aku merelakan kedekatan salah seorang teman baikku dengan pilihan hatinya. Melihatnya bersama pilihannya tampak bahagia, akhirnya aku sadar, aku tak boleh egois. Ini memang yang terbaik baginya. Aku akan mendukungnya.
Dan diiyain ma temanku yang lain, they’re really full of lop... pokoke lovee meluluuuu.....
Yeah.... lop sanggup mengalahkan segalanya....
Kutunggu kabar baik darimu teman.... ^_^
Masih soal waktu pula. Kurasa tentang satu hal aku masih perlu waktu. Jujur aku masih belum bisa. Bagaimanapun aku mencoba kudapati aku belum bisa. Berpura-pura aku baik2 saja pun aku tidak bisa.
Aku tahu, aku sudah tak berharap apa2 lagi tapi rasa menyedihkan itu masih juga belum bisa kusingkirkan.
Dan aku tahu ini bukan salah siapa2, semua salahku. Aku yang menaruh harapan terlalu banyak pada hal yang belum pasti.
Aku tidak marah dan sudah merelakan semua yang terjadi sejak dulu. Dan kurasa memang yang terbaik seperti ini. Lebih baik ada sebuah tempat berbagi tanpa dibatasi jarak dan waktu yang semua itu belum tentu bisa kulakukan. Aku tak mau ada penyesalan baik dariku atau dari siapa pun. Dan aku tak mau ada yang terluka.
Aku berharap seiring waktu semua akan kembali membaik.
Ya aku tahu aku masih perlu waktu.
Give me more time.....
Mei 15, 2011
KETIKA SESEORANG MENJADI TUA....
Tuesday, March 10, 2011
Di sini aku pengin berbagi tentang nenek dan kakekku.
Setiap orang jika dikaruniai umur panjang pasti akan mengalami masa tua. Masa di mana boleh melihat cucu tumbuh dewasa dan akhirnya beroleh cicit darinya.
Kali ini aku pengin menceritakan tentang nenekku di hari pernikahan adikku. Ada hal yang kita lupakan yang benar2 membuatku tersenta, nenekku.
Ketika kami semua pergi berangkat ke gereja untuk pemberkatan pernikahan adikku, kami semua lupa berpamitan dan mohon doa restu nenek.
Diburu waktu dan ketegangan, membuat kami semua melupakannya. Sebelum pergi kami sempat melakukan upacara langkahan. Upacara yang sempat diwarnai airmata tapi tidak boleh berlanjut coz bakal merusak make-up pengantin. Huehuehue..... mataku mpe berkaca-kaca.
Saat resepsi berlangsung, salah seorang saudaraku bercerita kepadaku. Waktu itu acara foto keluarga dan nenekku duduk di dekat pintu, tidak mau duduk di dekat pelaminan. Setelah dibujuk-bujuk akhirnya nenek mau berfoto bersama pasangan pengantin yaitu adikku.
‘Tadi waktu ditanya, nenek bilang kalau tadi tidak dipamitin.’
Aku begitu kaget mendengarnya. Maaf nek, sama sekali tidak terpikir.
Dan hari ini, adikku menelepon.
‘Kamu kemarin tidak menengok mbah Kemis ya?. Dia tadi menanyakanmu. Kenapa pulang tidak dolan ke rumah?’
Huehuehue.... maaf. Aku sama sekali tidak kepikiran.
Terlalu banyak pikiran, terlalu banyak yang harus diselesaikan dan terlalu banyak orang di rumah membuatku tidak bisa focus ke banyak hal.
Benar2 minta maaf.
Aku juga tahu. Di masa tua, saat orang merasa tak berdaya. Tidak lagi bisa banyak beraktivitas, tidak lagi bisa berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang banyak karena kondisi fisik dan pendengaran sudah tidak memungkinkan, merupakan saat2 seseorang merasa benar2 kesepian, merasa sendirian. Saat2 di mana seseorang sebenarnya membutuhkan perhatian lebih.
Ketika sudah tua, berharap dikunjungi oleh seseorang yang dulu pernah diasuhnya, pernah dibesarkannya, tapi ternyata saat sebenarnya kesempatan itu ada, seseorang yang diharapkannya berkunjung ternyata tidak kunjung datang, pasti akan merasa diabaikan. Merasa tidak dianggap keberadaannya. Merasa tidak dipedulikan.
Maaf.
Bukannya aku tidak peduli. Aku benar2 lupa.
Aku tahu. Mereka tidak mengharapkan apa2. Tidak mengharap balas budi atau apa pun. Sapaan, senyuman hangat, ditanya kabarnya bagaimana, itu sudah cukup buat mereka.
Jika ingat dulu, tiap mbah Kemis ke pasar menjual gerabah2 dengan keranjang dan sepedanya, aku selalu menunggu kepulangannya. Menunggu nasi bungkus dan tahu kuning oleh2nya. Nasi bungkus yang kataku sangat enak. Nasi yang mungkin seharusnya merupakan jatah mbah Kemis sendiri, selalu saja kuhabiskan. Dan mbah Kemis tampak senang jika nasinya kuhabiskan.
‘Besok lagi kalau ke pasar bawain lagi ya mbah,’ dulu aku selalu berpesan seperti itu ke mbah Kemis.
Mbah Kemis yang untuk mendapatkan sesuap nasi harus bersusah payah membuat gerabah sendiri bersama mbok Yem, kemudian dijualnya dengan naik sepeda dari rumah ke rumah. Berangkat subuh dan baru pulang sore hari, pasti sangat melelahkan dengan hasil yang tak seberapa.
Sedang aku, makan di rumah tak pernah kekurangan. Kebutuhanku selalu dipenuhi oleh orangtuaku lebih dari cukup. Tapi aku selalu saja menghabiskan jatah makan mbah Kemis. Ya, rumput tetangga selalu tampak lebih hijau. Nasi bungkus mbah Kemis selalu tampak lebih nikmat dibanding makanan di rumah.
Sepeninggal mbok Yem, mbah Kemis jadi sakit2an. Sekarang sudah tidak bisa ke mana2 lagi. Aku berharap mbah kemis tetap sehat dan tetap doyan pedes. Sampai sekarang selalu saja minta dibuatkan sambal yang pedas. Makan tanpa sambal terasa kurang nikmat katanya.
Mbah, yang sehat ya. Nanti saat aku mudik lagi, aku pasti akan datang menengokmu.
Tunggu ya mbah.
Di sini aku pengin berbagi tentang nenek dan kakekku.
Setiap orang jika dikaruniai umur panjang pasti akan mengalami masa tua. Masa di mana boleh melihat cucu tumbuh dewasa dan akhirnya beroleh cicit darinya.
Kali ini aku pengin menceritakan tentang nenekku di hari pernikahan adikku. Ada hal yang kita lupakan yang benar2 membuatku tersenta, nenekku.
Ketika kami semua pergi berangkat ke gereja untuk pemberkatan pernikahan adikku, kami semua lupa berpamitan dan mohon doa restu nenek.
Diburu waktu dan ketegangan, membuat kami semua melupakannya. Sebelum pergi kami sempat melakukan upacara langkahan. Upacara yang sempat diwarnai airmata tapi tidak boleh berlanjut coz bakal merusak make-up pengantin. Huehuehue..... mataku mpe berkaca-kaca.
Saat resepsi berlangsung, salah seorang saudaraku bercerita kepadaku. Waktu itu acara foto keluarga dan nenekku duduk di dekat pintu, tidak mau duduk di dekat pelaminan. Setelah dibujuk-bujuk akhirnya nenek mau berfoto bersama pasangan pengantin yaitu adikku.
‘Tadi waktu ditanya, nenek bilang kalau tadi tidak dipamitin.’
Aku begitu kaget mendengarnya. Maaf nek, sama sekali tidak terpikir.
Dan hari ini, adikku menelepon.
‘Kamu kemarin tidak menengok mbah Kemis ya?. Dia tadi menanyakanmu. Kenapa pulang tidak dolan ke rumah?’
Huehuehue.... maaf. Aku sama sekali tidak kepikiran.
Terlalu banyak pikiran, terlalu banyak yang harus diselesaikan dan terlalu banyak orang di rumah membuatku tidak bisa focus ke banyak hal.
Benar2 minta maaf.
Aku juga tahu. Di masa tua, saat orang merasa tak berdaya. Tidak lagi bisa banyak beraktivitas, tidak lagi bisa berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang banyak karena kondisi fisik dan pendengaran sudah tidak memungkinkan, merupakan saat2 seseorang merasa benar2 kesepian, merasa sendirian. Saat2 di mana seseorang sebenarnya membutuhkan perhatian lebih.
Ketika sudah tua, berharap dikunjungi oleh seseorang yang dulu pernah diasuhnya, pernah dibesarkannya, tapi ternyata saat sebenarnya kesempatan itu ada, seseorang yang diharapkannya berkunjung ternyata tidak kunjung datang, pasti akan merasa diabaikan. Merasa tidak dianggap keberadaannya. Merasa tidak dipedulikan.
Maaf.
Bukannya aku tidak peduli. Aku benar2 lupa.
Aku tahu. Mereka tidak mengharapkan apa2. Tidak mengharap balas budi atau apa pun. Sapaan, senyuman hangat, ditanya kabarnya bagaimana, itu sudah cukup buat mereka.
Jika ingat dulu, tiap mbah Kemis ke pasar menjual gerabah2 dengan keranjang dan sepedanya, aku selalu menunggu kepulangannya. Menunggu nasi bungkus dan tahu kuning oleh2nya. Nasi bungkus yang kataku sangat enak. Nasi yang mungkin seharusnya merupakan jatah mbah Kemis sendiri, selalu saja kuhabiskan. Dan mbah Kemis tampak senang jika nasinya kuhabiskan.
‘Besok lagi kalau ke pasar bawain lagi ya mbah,’ dulu aku selalu berpesan seperti itu ke mbah Kemis.
Mbah Kemis yang untuk mendapatkan sesuap nasi harus bersusah payah membuat gerabah sendiri bersama mbok Yem, kemudian dijualnya dengan naik sepeda dari rumah ke rumah. Berangkat subuh dan baru pulang sore hari, pasti sangat melelahkan dengan hasil yang tak seberapa.
Sedang aku, makan di rumah tak pernah kekurangan. Kebutuhanku selalu dipenuhi oleh orangtuaku lebih dari cukup. Tapi aku selalu saja menghabiskan jatah makan mbah Kemis. Ya, rumput tetangga selalu tampak lebih hijau. Nasi bungkus mbah Kemis selalu tampak lebih nikmat dibanding makanan di rumah.
Sepeninggal mbok Yem, mbah Kemis jadi sakit2an. Sekarang sudah tidak bisa ke mana2 lagi. Aku berharap mbah kemis tetap sehat dan tetap doyan pedes. Sampai sekarang selalu saja minta dibuatkan sambal yang pedas. Makan tanpa sambal terasa kurang nikmat katanya.
Mbah, yang sehat ya. Nanti saat aku mudik lagi, aku pasti akan datang menengokmu.
Tunggu ya mbah.
WAJAH YANG SEMAKIN MENUA
Tuesday, March 10, 2011
Sore itu adalah hari malam serah-serahan dedeku. Oleh dedeku yang paling kecil aku diminta mendandani ibuku supaya tidak tampak kontras dengan adikku dan calon besan yang dandan di salon. Mereka mengenakan kain, kebaya dan rambut di sanggul sedang ibuku pakai setelan batik biasa. Sungguh tidak matching ya. Ayah-ibuku baru memutuskan mengenakan busana Jawa keesokan malam saat malam midodareni.
Sejak pagi tamu datang tak henti2nya. Aku tahu ayah-ibuku sebenarnya lelah, tapi mereka harus tetap menunjukkan roman muka ramah dan bersahabat kepada tamu-tamu dan keluarga besar yang berdatangan ke rumah.
Saat mau mendandani ibu, di kamar, ibuku hanya diam dan diam.
‘Kenapa? Ibu pusing,’ tanyaku.
‘Cape,’ hanya itu yang dikatakan ibu dan ibuku terlihat begitu uring2an.
Kuambil seperangkat peralatan make-up-ku dan olala.... eyeshadow, mascara, blush on, semuanya ketinggalan di Bandung. Ya sudah pakai peralatan seadanya.
Meskipun baru saja mandi, Ibuku tampak berkeringat. Sepertinya ibu masuk angin.
Kulap peluh di dahinya dengan tissue dan kemudian kuoleskan alas bedak di wajah ibu.
Aku kaget mendapati wajah yang sungguh jauh berbeda dengan wajah ibu dalam bayanganku.
Terakhir kali kulihat ibu, wajahnya masih tampak segar. Kalau aku sedang berjalan beriiringan dengan ibu pasti banyak yang bilang kayak kakak-adik. Hehehehe
Sedangkan wajah di depanku terlihat begitu banyak keriput. Tampak kusam dengan flex2 hitam yang mulai bermunculan.
‘Apakah benar ini ibuku?’ Aku tak percaya dengan penglihatanku. Sedih melihatnya. Biasanya ibuku begitu peduli dengan perawatan wajah dan penampilannya. Kenapa sekarang jadi begitu berbeda?
Tanpa banyak kata kulanjutkan mengoles alas bedak untuk menutupi flex2 di wajah ibu.
Aku yang turut andil menciptakan semakin banyak keriput di wajah ibu. Aku banyak membebani pikiran ibu dengan segala permasalahanku yang ga bisa kusembunyikan darinya. Selalu saja aku membuatnya khawatir.
Sampai sekarang aku memang masih belum bisa mandiri dan selalu saja masih bergantung padanya. Maaf ibu.....
Seharusnya di usianya yang sekarang ibuku bisa hidup dengan tenang tanpa dibebani oleh banyak hal yang aku tahu itu sangat berat buatnya. Tapi ibuku tak pernah mengeluh. Tak bosan2nya selalu memberiku dukungan dan semangat.
Terimakasih Ibu.
Kulanjutkan dengan menaburkan bedak tabur dan terakhir kuratakan dengan bedak padat. Tak lupa kuoleskan lipstik warna kesukaanku yang biasa kupakai ke bibir ibu.
Hehehe.... dasar tidak terbiasa mendandani orangtua, ibuku tidak berkenan dengan hasil kerjaku. Dihapusnya lipstik yang berlepotan di bibirnya dengan tissue yang dibasahi penyegar. Diambilnya bedak pribadi ibu, disapukan ulang ke wajahnya, dioleskan lipstik yang biasa dipakainya.
Hehehe... aku cuma tersenyum kecil ga berani berkomentar. Ternyata make up untuk orangtua jauh berbeda dengan yang biasa kupakai. Make up-ku warnanya terlalu natural, membuat wajah ibu terlihat pucat. Hehe... maaf.
Sejak hari itu aku berjanji. Aku akan berusaha menjadi anak yang berbakti. Tidak akan membuatnya sedih lagi.
Tapi satu hal aku belum bisa memenuhi harapannya.
Membawa pulang calon menantu.
Sabar ya bu. Hehehe.......
Love u mom. so much.
Sore itu adalah hari malam serah-serahan dedeku. Oleh dedeku yang paling kecil aku diminta mendandani ibuku supaya tidak tampak kontras dengan adikku dan calon besan yang dandan di salon. Mereka mengenakan kain, kebaya dan rambut di sanggul sedang ibuku pakai setelan batik biasa. Sungguh tidak matching ya. Ayah-ibuku baru memutuskan mengenakan busana Jawa keesokan malam saat malam midodareni.
Sejak pagi tamu datang tak henti2nya. Aku tahu ayah-ibuku sebenarnya lelah, tapi mereka harus tetap menunjukkan roman muka ramah dan bersahabat kepada tamu-tamu dan keluarga besar yang berdatangan ke rumah.
Saat mau mendandani ibu, di kamar, ibuku hanya diam dan diam.
‘Kenapa? Ibu pusing,’ tanyaku.
‘Cape,’ hanya itu yang dikatakan ibu dan ibuku terlihat begitu uring2an.
Kuambil seperangkat peralatan make-up-ku dan olala.... eyeshadow, mascara, blush on, semuanya ketinggalan di Bandung. Ya sudah pakai peralatan seadanya.
Meskipun baru saja mandi, Ibuku tampak berkeringat. Sepertinya ibu masuk angin.
Kulap peluh di dahinya dengan tissue dan kemudian kuoleskan alas bedak di wajah ibu.
Aku kaget mendapati wajah yang sungguh jauh berbeda dengan wajah ibu dalam bayanganku.
Terakhir kali kulihat ibu, wajahnya masih tampak segar. Kalau aku sedang berjalan beriiringan dengan ibu pasti banyak yang bilang kayak kakak-adik. Hehehehe
Sedangkan wajah di depanku terlihat begitu banyak keriput. Tampak kusam dengan flex2 hitam yang mulai bermunculan.
‘Apakah benar ini ibuku?’ Aku tak percaya dengan penglihatanku. Sedih melihatnya. Biasanya ibuku begitu peduli dengan perawatan wajah dan penampilannya. Kenapa sekarang jadi begitu berbeda?
Tanpa banyak kata kulanjutkan mengoles alas bedak untuk menutupi flex2 di wajah ibu.
Aku yang turut andil menciptakan semakin banyak keriput di wajah ibu. Aku banyak membebani pikiran ibu dengan segala permasalahanku yang ga bisa kusembunyikan darinya. Selalu saja aku membuatnya khawatir.
Sampai sekarang aku memang masih belum bisa mandiri dan selalu saja masih bergantung padanya. Maaf ibu.....
Seharusnya di usianya yang sekarang ibuku bisa hidup dengan tenang tanpa dibebani oleh banyak hal yang aku tahu itu sangat berat buatnya. Tapi ibuku tak pernah mengeluh. Tak bosan2nya selalu memberiku dukungan dan semangat.
Terimakasih Ibu.
Kulanjutkan dengan menaburkan bedak tabur dan terakhir kuratakan dengan bedak padat. Tak lupa kuoleskan lipstik warna kesukaanku yang biasa kupakai ke bibir ibu.
Hehehe.... dasar tidak terbiasa mendandani orangtua, ibuku tidak berkenan dengan hasil kerjaku. Dihapusnya lipstik yang berlepotan di bibirnya dengan tissue yang dibasahi penyegar. Diambilnya bedak pribadi ibu, disapukan ulang ke wajahnya, dioleskan lipstik yang biasa dipakainya.
Hehehe... aku cuma tersenyum kecil ga berani berkomentar. Ternyata make up untuk orangtua jauh berbeda dengan yang biasa kupakai. Make up-ku warnanya terlalu natural, membuat wajah ibu terlihat pucat. Hehe... maaf.
Sejak hari itu aku berjanji. Aku akan berusaha menjadi anak yang berbakti. Tidak akan membuatnya sedih lagi.
Tapi satu hal aku belum bisa memenuhi harapannya.
Membawa pulang calon menantu.
Sabar ya bu. Hehehe.......
Love u mom. so much.
RABU ABU TAHUN KE-8 KU DI BANDUNG
Wednesday, March 9, 2011
Kali ini, untuk pertama kalinya aku ikut misa Rabu Abu pagi yang tidak telat. Hohohoho rekor.
Mpe gereja masih harus menunggu sekitar 7 menit baru misa dimulai. * Really like this.....*
Aku juga ga nyangka bisa bangun pukul 04.35, gara2 alarm hp mba Naniek yang bunyinya kenceng.
Niat awal mau mandi pake air anget, ternyata kompor gas ga mau diajak kompromi. Ga tau kenapa pagi ini susah banget dinyalain. Jadinya terpaksa deh mandi pake air dingin.
Melihat daun palma kering di atas cermin hias kamarku. Ow ow ow...
Itu daun palma yang sudah diberkati, koleksiku dari tahun pertama aku ikut misa Minggu Palma di Bandung.
Tidak seharusnya selama masa Prapaska ada daun palma kering di rumah. Tapi aku selalu saja lupa dan lupa untuk membawa daun palma itu ke sekretariat gereja untuk ikut dibakar dijadikan abu untuk upacara Rabu Abu.
Mudah2an tahun depan aku tidak lupa lagi.
Misa kali ini aku ditemani mba Naniek, mbakku dari Jakarta, yang udah 2 malam ini menginap di kostku. Seperti biasa , misa pk05.45 selalu penuh dipadati umat. Ya, semuanya pengin mengawali masa puasa dan pantang dengan menerima abu sebagai tanda pertobatan.
Begitu pun aku. Selalu berusaha bangun pagi supaya sebelum memulai puasaku aku sudah menerima abu. Sebagai tanda kesiapanku memasuki masa Prapaska.
Kemarin malam aku dan mba Naniek juga sms-an dengan beberapa temanku, membahas Prapaska kali ini mau pantang apa. Temanku di Yogya mereka memutuskan untuk pantang fb dan nonton film korea. Hohoho.... aku tau ini cukup berat buat dia coz dia benar2 Koreanholic.
Temanku di Bandung ada yang pantang pedas. Padahal makan ga pedas itu rasanya seperti makan ga pake lauk. Siph lah... Dan beberapa teman masih bingung mau pantang apa.
Dan aku, seperti tahun2 kemarin, aku akan berusaha puasa full mpe Paska dari pk.06.00 mpe pk.18.00. Tapi khusus untuk hari Jumat, aku harus menahan diri baru berbuka pk.19.30 coz misa Jalan Salib baru kelar pukul 19.15. Harus kuat... ya ya ya pasti bisa coz tahun2 kemarin juga bisa.
Prapaska tahun kemarin, aku memutuskan deactived fb dan full no acces internet.
Prapaska kali ini, aku kembali puasa internet tapi fb tidak ku-deactived-kan. Tidak deactived kurasa lebih berat buatku coz sewaktu-waktu keinginan untuk view fb pasti begitu besar. Klo deactived kan ribet musti login dulu, jadi bakal lebih bisa menahan diri untuk tidak acces.
Semoga aku bisa dan mpe akhir bulan depan mudah2an tidak diharuskan acces internet untuk urusan kantor.
Untuk sekarang2 ini, tidak acces fb buatku tidak terlalu berat coz sekarang sudah tidak terlalu addicted banget. So.... kuputuskan juga untuk tidak nonton Amira di hari Rabu dan tiap Jumat.
’40 hari dunk!’ protes dedeku.
Hohoho... maaf, ga nonton di hari wajib pantang dan puasa aja buatku udah lumayan berat.... ~_^
Sebenarnya aku pengin banget suatu saat nanti bisa mencoba jadi vegetarian murni selama masa Prapaska. Untuk sekarang2 ini, kurasa aku belum sanggup. Masih terlalu berat buatku dan klo diitung-itung modalnya gedhe booo..... Aku kan masih harus dalam masa pengiritan besar-besaran. Hehehehe.
Mudah2an nanti jika aku sudah pindah ke tempat baru bisa kuwujudkan keinginanku ini.
Yah, puasa dan pantang semampu kita. Sebagai sarana buat kita berlatih menahan hawa nafsu dan belajar hidup prihatin.
Jika memang tidak sanggup puasa, pantang sesuatu yang kita ketergantungan dengannya itu sudah cukup berat. Mengenai puasa, aku sering diingatkan ibuku untuk tidak boleh sering2 puasa coz bakal bikin kondisi badanku gampang drop n menjaga gejala maag-ku biar tidak kambuh lagi. Nyatanya kemarin2 dengan niat yang sungguh2 aku berhasil berpuasa mpe Paska (kecuali hari Minggu tidak diperbolehkan puasa). Puasa berarti makan dengan teratur saat jam sahur dan buka. Dengan makan secara teratur di waktu yang sama itu malah bisa menyembuhkan maag-ku.
Ya ya ya. Kali ini pun pasti bisa.
Semoga lancar mpe Paska nanti.
Fighting!
Semangaaaaat!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Kali ini, untuk pertama kalinya aku ikut misa Rabu Abu pagi yang tidak telat. Hohohoho rekor.
Mpe gereja masih harus menunggu sekitar 7 menit baru misa dimulai. * Really like this.....*
Aku juga ga nyangka bisa bangun pukul 04.35, gara2 alarm hp mba Naniek yang bunyinya kenceng.
Niat awal mau mandi pake air anget, ternyata kompor gas ga mau diajak kompromi. Ga tau kenapa pagi ini susah banget dinyalain. Jadinya terpaksa deh mandi pake air dingin.
Melihat daun palma kering di atas cermin hias kamarku. Ow ow ow...
Itu daun palma yang sudah diberkati, koleksiku dari tahun pertama aku ikut misa Minggu Palma di Bandung.
Tidak seharusnya selama masa Prapaska ada daun palma kering di rumah. Tapi aku selalu saja lupa dan lupa untuk membawa daun palma itu ke sekretariat gereja untuk ikut dibakar dijadikan abu untuk upacara Rabu Abu.
Mudah2an tahun depan aku tidak lupa lagi.
Misa kali ini aku ditemani mba Naniek, mbakku dari Jakarta, yang udah 2 malam ini menginap di kostku. Seperti biasa , misa pk05.45 selalu penuh dipadati umat. Ya, semuanya pengin mengawali masa puasa dan pantang dengan menerima abu sebagai tanda pertobatan.
Begitu pun aku. Selalu berusaha bangun pagi supaya sebelum memulai puasaku aku sudah menerima abu. Sebagai tanda kesiapanku memasuki masa Prapaska.
Kemarin malam aku dan mba Naniek juga sms-an dengan beberapa temanku, membahas Prapaska kali ini mau pantang apa. Temanku di Yogya mereka memutuskan untuk pantang fb dan nonton film korea. Hohoho.... aku tau ini cukup berat buat dia coz dia benar2 Koreanholic.
Temanku di Bandung ada yang pantang pedas. Padahal makan ga pedas itu rasanya seperti makan ga pake lauk. Siph lah... Dan beberapa teman masih bingung mau pantang apa.
Dan aku, seperti tahun2 kemarin, aku akan berusaha puasa full mpe Paska dari pk.06.00 mpe pk.18.00. Tapi khusus untuk hari Jumat, aku harus menahan diri baru berbuka pk.19.30 coz misa Jalan Salib baru kelar pukul 19.15. Harus kuat... ya ya ya pasti bisa coz tahun2 kemarin juga bisa.
Prapaska tahun kemarin, aku memutuskan deactived fb dan full no acces internet.
Prapaska kali ini, aku kembali puasa internet tapi fb tidak ku-deactived-kan. Tidak deactived kurasa lebih berat buatku coz sewaktu-waktu keinginan untuk view fb pasti begitu besar. Klo deactived kan ribet musti login dulu, jadi bakal lebih bisa menahan diri untuk tidak acces.
Semoga aku bisa dan mpe akhir bulan depan mudah2an tidak diharuskan acces internet untuk urusan kantor.
Untuk sekarang2 ini, tidak acces fb buatku tidak terlalu berat coz sekarang sudah tidak terlalu addicted banget. So.... kuputuskan juga untuk tidak nonton Amira di hari Rabu dan tiap Jumat.
’40 hari dunk!’ protes dedeku.
Hohoho... maaf, ga nonton di hari wajib pantang dan puasa aja buatku udah lumayan berat.... ~_^
Sebenarnya aku pengin banget suatu saat nanti bisa mencoba jadi vegetarian murni selama masa Prapaska. Untuk sekarang2 ini, kurasa aku belum sanggup. Masih terlalu berat buatku dan klo diitung-itung modalnya gedhe booo..... Aku kan masih harus dalam masa pengiritan besar-besaran. Hehehehe.
Mudah2an nanti jika aku sudah pindah ke tempat baru bisa kuwujudkan keinginanku ini.
Yah, puasa dan pantang semampu kita. Sebagai sarana buat kita berlatih menahan hawa nafsu dan belajar hidup prihatin.
Jika memang tidak sanggup puasa, pantang sesuatu yang kita ketergantungan dengannya itu sudah cukup berat. Mengenai puasa, aku sering diingatkan ibuku untuk tidak boleh sering2 puasa coz bakal bikin kondisi badanku gampang drop n menjaga gejala maag-ku biar tidak kambuh lagi. Nyatanya kemarin2 dengan niat yang sungguh2 aku berhasil berpuasa mpe Paska (kecuali hari Minggu tidak diperbolehkan puasa). Puasa berarti makan dengan teratur saat jam sahur dan buka. Dengan makan secara teratur di waktu yang sama itu malah bisa menyembuhkan maag-ku.
Ya ya ya. Kali ini pun pasti bisa.
Semoga lancar mpe Paska nanti.
Fighting!
Semangaaaaat!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
KETEMU SUSTER CARLA
Tuesday, March 10, 2011
Dua minggu kemarin tepatnya tanggal 27 Februari, ketika kelompok koor-ku sedang bertugas koor, kulihat ada seorang suster di tengah-tengah kelompor koor kami. Siapa ya? Wajahnya kayak sudah familier banget.
Ternyata suster cantik itu Suster Carla, dulunya aktivis di gereja kami. Pantes kok sudah lama sekali tidak melihat cici ini..
Sejak dulu cici yang satu ini pintar bernyanyi dan bermain piano. Lama tidak nampak ternyata cici ini terpanggil menjadi seorang biarawati.
Suster Carla ikut membantu tugas koor kami dari awal sampai akhir. Ya, dia sama sekali tidak kesulitan dengan lagu2 kami coz sejak dulu dia selalu terlibat dalam kelompok koor. Terimakasih sudah membantu sopran suster. Hehe...
Saat komuni, Suster Carla menyanyi solo dengan diiringi piano yang dimainkannya sendiri. Menyanyikan sebuah lagu rohani. Suaranya bagus sekali. Nyanyiannya terdengar jauh lebih indah dan menyentuh dibandingkan dulu sebelum dia menjadi biarawati. Menyanyi dengan penuh penghayatan membuat kami dan segenap umat yang hadir terhanyut. Aku benar2 merasa merinding berdoa usai komuni diiringi alunan suaranya.
Selesai menyanyi terdengar suara tepuk tangan sebagai tanda apresiasi umat yang terpukau oleh nyanyian Suster Carla.
‘Lagiii... lagiii...’
Tapi Suster Carla tidak berkenan menyanyi lagi dan menyerahkan lagu selanjutnya dibawakan oleh kelompok koor kami. Dan segera mengalunlah ‘Diantara Bintang’.
Suster Carla bertandang ke gereja kami bersama beberapa suster lain yang masih dalam satu konggregasi dalam rangka menggalang dana untuk karya misionaris mereka. Umat diharapkan kerelaannya memberikan sumbangan dengan membeli CD lagu hasil karya suster2 ini termasuk di dalamnya sebuah lagu yang dinyanyikan Suster Carla, lagu yang sama yang dinyanyikannya sewaktu misa.
Salut dengan Suster Carla. Dia rela meninggalkan semua demi panggilan imannya. Suster yang cantik, ramah dan energik. Semoga banyak generasi muda yang terpanggil untuk mengikuti jejakmu.
Dulu waktu masih kecil, tepatnya ketika masih TK, aku pernah bercita-cita menjadi seorang suster. Suster yang dekat dengan anak-anak kecil. Ya, dulu waktu kecil, ibuku dekat banget dengan suster2. Aku dulu sering banget diajak main ke Susteran. Bahkan aku pun dulu dilahirkan di kompleks Susteran yang di sana memang ada klinik bersalinnya.
Rasanya nyaman banget tiap berada di sana.
Ruang dalam yang asri dan hijau. Ada kolam ikan dengan air mancur yang airnya selalu bergemericik dan ikan warna-warni yang hilir-mudik ke sana ke mari, banyak tanaman serba hijau, lingkungan yang bersih, goa Maria yang tertata apik. Benar2 merasa adem, damai dan tentram. Halaman depan yang penuh dengan bunga2 bermekaran. Ada gladiol, ada krisan, ada mawar. Dan bunga yang paling kusuka waktu itu aku ingat banget krisan merah. Rasanya pengin kupetik kubawa pulang.
Suster2 yang baik dan ramah. Dulu ibuku suka mengajar sekolah minggu. Otomatis aku rajin datang sekolah minggu, kadang bareng ibu tapi lebih sering berangkat berjalan kaki bersama teman2ku. Kadang2 suster diundang untuk membantu mengajar. Suster selalu mengajar kami menyanyi dan punya cerita2 menarik untuk diperdengarkan ke aku dan teman2ku.
Ya itulah yang dulu mendorongku pengin jadi suster.
Kangen dengan suster2 sahabatku waktu masih kecil. Yang aku ingat namanya Suster Lydia, Suster Georgia. Aku tidak tahu sekarang mereka bertugas di mana. Masih di Jawa ataukah ke luar Jawa? Masih di Indonesia ataukah ke luar negeri? Aku benar2 tidak tahu. Sejak susteran diambil alih oleh konggregasi dari Filipina aku sudah tidak pernah main ke susteran lagi dan kehilangan jejak dengan suster2 sahabatku. Bahkan wajahnya pun sekarang aku sudah tidak ingat. Hanya Suster Georgia yang aku sekilas masih ingat. Dulu jadi pendamping putra-putri altar. Aku masih bersamanya sampai aku duduk di kelas 4 SD.
Berharap suatu saat nanti aku bisa bertemu lagi dengan suster2 di masa kecilku itu.
Seiring waktu keinginan menjadi suster berangsur-angsur mengendur karena aku tidak suka dengan ibuku yang selalu saja membicarakan ke suster2 yang ditemuinya kalau aku bercita-cita menjadi seorang suster. Huehuehue.... Padahal sebenarnya ga ada yang salah dengan itu ya. Mungkin ibuku bangga dengan cita2ku dan memang benar dalam hati kecilnya pengin salah satu anaknya menjadi seorang suster.
Dan sekarang. Aku ga tahu apakah aku masih punya keinginan untuk menjadi seorang suster.
Kadang2 terbersit keinginan untuk tinggal menyepi membaktikan diri ke sebuah panti asuhan. Panti asuhan yang jauh dari keramaian yang berada di daerah pegunungan, perkebunan atau pedesaan. Rasanya hidup bakal benar2 tenang dan damai.
Rasanya cape melihat begitu banyak orang yang berlomba-lomba mengejar materi dan dengan teganya mengorbankan orang2 kecil bahkan teman sendiri demi memperkaya diri.
Ya, banyak yang harus kurenungkan sebenarnya aku terpanggil menjadi apa. Biarlah semua berjalan sesuai apa yang direncanakan-Nya untukku.
Lihat saja nanti....... ^_^
Dua minggu kemarin tepatnya tanggal 27 Februari, ketika kelompok koor-ku sedang bertugas koor, kulihat ada seorang suster di tengah-tengah kelompor koor kami. Siapa ya? Wajahnya kayak sudah familier banget.
Ternyata suster cantik itu Suster Carla, dulunya aktivis di gereja kami. Pantes kok sudah lama sekali tidak melihat cici ini..
Sejak dulu cici yang satu ini pintar bernyanyi dan bermain piano. Lama tidak nampak ternyata cici ini terpanggil menjadi seorang biarawati.
Suster Carla ikut membantu tugas koor kami dari awal sampai akhir. Ya, dia sama sekali tidak kesulitan dengan lagu2 kami coz sejak dulu dia selalu terlibat dalam kelompok koor. Terimakasih sudah membantu sopran suster. Hehe...
Saat komuni, Suster Carla menyanyi solo dengan diiringi piano yang dimainkannya sendiri. Menyanyikan sebuah lagu rohani. Suaranya bagus sekali. Nyanyiannya terdengar jauh lebih indah dan menyentuh dibandingkan dulu sebelum dia menjadi biarawati. Menyanyi dengan penuh penghayatan membuat kami dan segenap umat yang hadir terhanyut. Aku benar2 merasa merinding berdoa usai komuni diiringi alunan suaranya.
Selesai menyanyi terdengar suara tepuk tangan sebagai tanda apresiasi umat yang terpukau oleh nyanyian Suster Carla.
‘Lagiii... lagiii...’
Tapi Suster Carla tidak berkenan menyanyi lagi dan menyerahkan lagu selanjutnya dibawakan oleh kelompok koor kami. Dan segera mengalunlah ‘Diantara Bintang’.
Suster Carla bertandang ke gereja kami bersama beberapa suster lain yang masih dalam satu konggregasi dalam rangka menggalang dana untuk karya misionaris mereka. Umat diharapkan kerelaannya memberikan sumbangan dengan membeli CD lagu hasil karya suster2 ini termasuk di dalamnya sebuah lagu yang dinyanyikan Suster Carla, lagu yang sama yang dinyanyikannya sewaktu misa.
Salut dengan Suster Carla. Dia rela meninggalkan semua demi panggilan imannya. Suster yang cantik, ramah dan energik. Semoga banyak generasi muda yang terpanggil untuk mengikuti jejakmu.
Dulu waktu masih kecil, tepatnya ketika masih TK, aku pernah bercita-cita menjadi seorang suster. Suster yang dekat dengan anak-anak kecil. Ya, dulu waktu kecil, ibuku dekat banget dengan suster2. Aku dulu sering banget diajak main ke Susteran. Bahkan aku pun dulu dilahirkan di kompleks Susteran yang di sana memang ada klinik bersalinnya.
Rasanya nyaman banget tiap berada di sana.
Ruang dalam yang asri dan hijau. Ada kolam ikan dengan air mancur yang airnya selalu bergemericik dan ikan warna-warni yang hilir-mudik ke sana ke mari, banyak tanaman serba hijau, lingkungan yang bersih, goa Maria yang tertata apik. Benar2 merasa adem, damai dan tentram. Halaman depan yang penuh dengan bunga2 bermekaran. Ada gladiol, ada krisan, ada mawar. Dan bunga yang paling kusuka waktu itu aku ingat banget krisan merah. Rasanya pengin kupetik kubawa pulang.
Suster2 yang baik dan ramah. Dulu ibuku suka mengajar sekolah minggu. Otomatis aku rajin datang sekolah minggu, kadang bareng ibu tapi lebih sering berangkat berjalan kaki bersama teman2ku. Kadang2 suster diundang untuk membantu mengajar. Suster selalu mengajar kami menyanyi dan punya cerita2 menarik untuk diperdengarkan ke aku dan teman2ku.
Ya itulah yang dulu mendorongku pengin jadi suster.
Kangen dengan suster2 sahabatku waktu masih kecil. Yang aku ingat namanya Suster Lydia, Suster Georgia. Aku tidak tahu sekarang mereka bertugas di mana. Masih di Jawa ataukah ke luar Jawa? Masih di Indonesia ataukah ke luar negeri? Aku benar2 tidak tahu. Sejak susteran diambil alih oleh konggregasi dari Filipina aku sudah tidak pernah main ke susteran lagi dan kehilangan jejak dengan suster2 sahabatku. Bahkan wajahnya pun sekarang aku sudah tidak ingat. Hanya Suster Georgia yang aku sekilas masih ingat. Dulu jadi pendamping putra-putri altar. Aku masih bersamanya sampai aku duduk di kelas 4 SD.
Berharap suatu saat nanti aku bisa bertemu lagi dengan suster2 di masa kecilku itu.
Seiring waktu keinginan menjadi suster berangsur-angsur mengendur karena aku tidak suka dengan ibuku yang selalu saja membicarakan ke suster2 yang ditemuinya kalau aku bercita-cita menjadi seorang suster. Huehuehue.... Padahal sebenarnya ga ada yang salah dengan itu ya. Mungkin ibuku bangga dengan cita2ku dan memang benar dalam hati kecilnya pengin salah satu anaknya menjadi seorang suster.
Dan sekarang. Aku ga tahu apakah aku masih punya keinginan untuk menjadi seorang suster.
Kadang2 terbersit keinginan untuk tinggal menyepi membaktikan diri ke sebuah panti asuhan. Panti asuhan yang jauh dari keramaian yang berada di daerah pegunungan, perkebunan atau pedesaan. Rasanya hidup bakal benar2 tenang dan damai.
Rasanya cape melihat begitu banyak orang yang berlomba-lomba mengejar materi dan dengan teganya mengorbankan orang2 kecil bahkan teman sendiri demi memperkaya diri.
Ya, banyak yang harus kurenungkan sebenarnya aku terpanggil menjadi apa. Biarlah semua berjalan sesuai apa yang direncanakan-Nya untukku.
Lihat saja nanti....... ^_^
JADI JURAGAN BATIK DADAKAN
Wednesday, March 9, 2011
Sejak pertengahan tahun kemarin mau ga mau aku punya kerjaan sampingan jualan batik dan dapat julukan baru ‘Juragan Batik’. Seperti halnya dapat nama panggilan Gi Eun di kantor gara2 hobi nonton film Korea.
Julukan ini diberikan oleh salah satu temanku yang menjadi langganan batikku.
Bermula dari dedeku yang kebeneran kerja di Papua dan pernah membawakan oleh2 batik Papua yang memang bagus banget, jadilah teman2ku pada pengin dan nitip.
Soal harga ga bisa dibilang murah. Harganya lumayan mahal buat ukuran kantongku. So, biarpun kadang2 ada batik yang aku suka banget, dengan amat terpaksa aku harus menahan diri untuk tidak membelinya coz bakal bikin kerusakan yang amat parah pada anggaran bulananku. Hohoho....
Aku menyadari aku memang ga bakat jadi pedagang. Aku ga tega jika diminta mengambil keuntungan dari batik2 yang kujual. Paling2 kutambahkan ongkos kirim yang dibagi rata ke semua batik. Rasanya ga tega jika harus mengambil keuntungan dari rekan2 kerjaku yang aku sudah merasa sangat dekat. Lagian mereka kan juga boleh dibilang cuma ‘nitip’ dan aku sebagai perantara.
Yang membedakan batik Papua dengan batik2 lain adalah coraknya yang khas Papua. Rata2 didominasi oleh gambar burung Cendrawasih. Warnanya pun beragam. Lebih banyak ragam warnanya dibandingkan batik Yogya dan Solo yang didominasi oleh warna hitam dan coklat. Ada warna biru, merah, kuning, hijau, ungu, coklat, orange. Jadi bingung sendiri jika disuruh milih coz saking banyaknya pilihan.
Ada tiga pilihan batik dengan selisih harga per meter sekitar Rp10.000 s.d. Rp.15.000,-
Batik bledak merupakan batik yang paling murah. Batik ini harganya berbeda-beda tergantung kualitas kain. Yang kainnya lebih halus, harganya lebih mahal.
Kualitas batik no. 2 yaitu batik prada. Ada variasi warna emas di corak2 ornamennya.
Dan batik yang paling mahal adalah batik tulis. Ya, di mana2 batik tulis adalah yang paling mahal.
Batik itu cantik. So yang memakainya pun akan terlihat lebih cantik. Hehehehe....
Aku suka batik. Batik Papua semakin memperkaya pengetahuanku tentang hasil karya anak bangsa yang patut dibanggakan. Hehehe koleksi batikku nambah lagi.
Batik Yogya, batik Solo, batik Trusmi – Cirebon, dan sekarang batik Papua.
I love batik.
Hayuu... hayuuu....
Siapa yang mau order lagi....
Sejak pertengahan tahun kemarin mau ga mau aku punya kerjaan sampingan jualan batik dan dapat julukan baru ‘Juragan Batik’. Seperti halnya dapat nama panggilan Gi Eun di kantor gara2 hobi nonton film Korea.
Julukan ini diberikan oleh salah satu temanku yang menjadi langganan batikku.
Bermula dari dedeku yang kebeneran kerja di Papua dan pernah membawakan oleh2 batik Papua yang memang bagus banget, jadilah teman2ku pada pengin dan nitip.
Soal harga ga bisa dibilang murah. Harganya lumayan mahal buat ukuran kantongku. So, biarpun kadang2 ada batik yang aku suka banget, dengan amat terpaksa aku harus menahan diri untuk tidak membelinya coz bakal bikin kerusakan yang amat parah pada anggaran bulananku. Hohoho....
Aku menyadari aku memang ga bakat jadi pedagang. Aku ga tega jika diminta mengambil keuntungan dari batik2 yang kujual. Paling2 kutambahkan ongkos kirim yang dibagi rata ke semua batik. Rasanya ga tega jika harus mengambil keuntungan dari rekan2 kerjaku yang aku sudah merasa sangat dekat. Lagian mereka kan juga boleh dibilang cuma ‘nitip’ dan aku sebagai perantara.
Yang membedakan batik Papua dengan batik2 lain adalah coraknya yang khas Papua. Rata2 didominasi oleh gambar burung Cendrawasih. Warnanya pun beragam. Lebih banyak ragam warnanya dibandingkan batik Yogya dan Solo yang didominasi oleh warna hitam dan coklat. Ada warna biru, merah, kuning, hijau, ungu, coklat, orange. Jadi bingung sendiri jika disuruh milih coz saking banyaknya pilihan.
Ada tiga pilihan batik dengan selisih harga per meter sekitar Rp10.000 s.d. Rp.15.000,-
Batik bledak merupakan batik yang paling murah. Batik ini harganya berbeda-beda tergantung kualitas kain. Yang kainnya lebih halus, harganya lebih mahal.
Kualitas batik no. 2 yaitu batik prada. Ada variasi warna emas di corak2 ornamennya.
Dan batik yang paling mahal adalah batik tulis. Ya, di mana2 batik tulis adalah yang paling mahal.
Batik itu cantik. So yang memakainya pun akan terlihat lebih cantik. Hehehehe....
Aku suka batik. Batik Papua semakin memperkaya pengetahuanku tentang hasil karya anak bangsa yang patut dibanggakan. Hehehe koleksi batikku nambah lagi.
Batik Yogya, batik Solo, batik Trusmi – Cirebon, dan sekarang batik Papua.
I love batik.
Hayuu... hayuuu....
Siapa yang mau order lagi....
Maret 06, 2011
Truly being thirty
Finally.....
Already being thirty....
Hehehehe....
Ultahku kali ini lain dari yang lain...
Dirayakan besar-besaran ma keluarga besar, teman2 dan banyak tamu undangan...
Pesan catering, sedia banyak souvenir, bikin dress seragam merah2....
Hohoho maksa....
Soalnya ultahku kali ini bertepatan dengan merit dedeku, jadi we anggap aja sekalian dirayain.... ~_^
Di hari ultahku ini juga, akhirnya kesampaian juga ganti hp coz banyak yang bilang hp-ku sudah uzur, sudah saatnya dibuang.
Thx to dedeku yang sudah berbaikhati membelikannya secara khusus untukku.
Biarpun habis ini aku harus berjuang ekstra belajar bagaimana mengoperasikan tu hp yang ternyata membuatku tersadar bahwa aku benar2 gaptek.
Aku benar2 dibuat pusing coz tidak familier dgn hp yang full touchscreen. Salah pilih nee aku kayaknya.
Bukan cuma aku saja, si Nick yang aku merasa dia tidak segaptek aku, tryt juga dibikin pusing.
Memang kudu sinau dulu, mencermati buku panduan manual.
Sabar... sabar....
Semua memang perlu proses...
Mau pinter ya harus mau belajar....
Dan hari2 ini juga ada kabar gembira. Sepupuku nambah 1 lagi. Cewek.
Dari omku yang di Jakarta.
Lahir 4 hari sesudah aku. Hohohoho......
Selamat.... selamat.....
Dan untuk ultah kali ini,
aku benar2 minta maaf.
Keadaan keuanganku benar2 sedang morat-marit.
Buat temen2 yang pada nagih traktiran, maaf ya...
Terpaksa dipending dulu mpe keadaan memungkinkan.
Sekali lagi...
Sabaaaar...... sabaaaar....... ^_^
Already being thirty....
Hehehehe....
Ultahku kali ini lain dari yang lain...
Dirayakan besar-besaran ma keluarga besar, teman2 dan banyak tamu undangan...
Pesan catering, sedia banyak souvenir, bikin dress seragam merah2....
Hohoho maksa....
Soalnya ultahku kali ini bertepatan dengan merit dedeku, jadi we anggap aja sekalian dirayain.... ~_^
Di hari ultahku ini juga, akhirnya kesampaian juga ganti hp coz banyak yang bilang hp-ku sudah uzur, sudah saatnya dibuang.
Thx to dedeku yang sudah berbaikhati membelikannya secara khusus untukku.
Biarpun habis ini aku harus berjuang ekstra belajar bagaimana mengoperasikan tu hp yang ternyata membuatku tersadar bahwa aku benar2 gaptek.
Aku benar2 dibuat pusing coz tidak familier dgn hp yang full touchscreen. Salah pilih nee aku kayaknya.
Bukan cuma aku saja, si Nick yang aku merasa dia tidak segaptek aku, tryt juga dibikin pusing.
Memang kudu sinau dulu, mencermati buku panduan manual.
Sabar... sabar....
Semua memang perlu proses...
Mau pinter ya harus mau belajar....
Dan hari2 ini juga ada kabar gembira. Sepupuku nambah 1 lagi. Cewek.
Dari omku yang di Jakarta.
Lahir 4 hari sesudah aku. Hohohoho......
Selamat.... selamat.....
Dan untuk ultah kali ini,
aku benar2 minta maaf.
Keadaan keuanganku benar2 sedang morat-marit.
Buat temen2 yang pada nagih traktiran, maaf ya...
Terpaksa dipending dulu mpe keadaan memungkinkan.
Sekali lagi...
Sabaaaar...... sabaaaar....... ^_^
Langganan:
Postingan (Atom)