Maret 22, 2016

JATUH CINTA

Hehe... jatuh cinta... berjuta rasanya...
Aku menulis ini bukan karena aku sedang jatuh cinta yaaa..... Tapi karena aku mulai menertawakan kenangan2 zaman dulu, bertahun-tahun yang lalu.
Sudah bisa menertawakan dan sudah mau menuliskannya berarti aku sudah bener2 move on. Hihi....

Cinta monyet zaman SD. Aku seneng banget waktu bisa bikin drama di kelas bareng dia. Kita bikin drama dengan tema Natal. Menurutku dia adalah cowok paling cakep di kelasku waktu itu. Tapi playboy-nya ga ketulungan. Hihi..
Belakangan waktu kelas 3 SMP hampir lulus, dia pulang sekolah mengikutiku pulang, kukira dia mau main ke rumahku. Kami naik sepeda berjejeran sambil ngobrol. Sampai dekat rumahku dia bilang gini,”Kenapa dulu waktu SD kamu menolakku?”. Hahahaha... aku ketawa ga nyangka dengar pertanyaan spontannya. Dia minta aku menuliskannya dalam surat kemudian berbalik pulang, ga jadi maen ke rumahku.
Waktu SD kami jarang banget saling sapa karena waktu itu kita dipacok-pacokkan (dijodoh-jodohkan). Dan anak2 klo sudah meledek teramat sadis, bisa bikin kita nangis dan ga mau ke sekolah lagi. Jadi jangan sampai terpergok lagi ngobrol berdua. Bahaya..... Setelah SMP baru kita suka ngobrol meskipun waktu itu kita beda kelas. Dia sering nyamper ke kelasku, bahkan sering memakai topiku klo mau ngapelin cewek. Suka curhat2 ke aku tentang cewek yang lagi jadi incarannya.

Waktu SMP itu aku dulu pernah suka ama kakak kelas yang sepedanya warna ungu. Aku sudah suka sejak aku masih SD kelas 6 dan papasan ma dia yang lagi berangkat sekolah. Suka-suka ga jelas. Hahaha. Belakangan tetanggaku depan rumah yang juga temannya sekelas menceritakan perihal aku suka ma cowok itu dan cowok itu jadi suka nitip salam, bahkan pernah mpe main ke tetanggaku yang rumahnya di depan rumahku persis. Aku jadi malu dan kesel ama tetanggaku dan entah kenapa kemudian rasa suka itu berangsur menghilang dengan sendirinya.

Waktu SMA. Ini kali pertama aku bena2 suka ama cowok. Beda kelas. Aku juga ga tau bagaimana awal mulanya hingga rasa suka itu ada. Mungkin pandangan mata tidak bisa berbohong ya. Bisa papasan, bisa jajan di kantin bareng, bisa pulang beriringan, meskipun kita masing2 dengan geng kita, rasanya sudah seneng banget.
Waktu sama2 jajan di kantin, secara ga sengaja tangan kita masuk ke stopples yang sama, karena sama2 mo ngambil permen hingga tangan ga bisa keluar karena tangan sama2 menggenggam permen, kemudian dia melepaskan permennya dulu dan mengeluarkan tangannya. Setelah aku mengambil sejumlah permen yang akan kubeli, baru kemudian dia mengambil permen yang akan dibelinya. Lucu. Hihi... bisa kebetulan gitu yak.

Waktu dia dan geng-nya lagi main volley di halaman sekolah, terus aku lewat, dia sengaja menendang bola volley ke arahku, terus minta aku mengambilkannya. Aku bilang, ‘Aku tendang ya?’ Dia mengiyakan, kemudian kutendang ke arahnya. Hihi...

Waktu sudah sama2 telat sekolah, bel sudah cukup lama berdering tapi kita masih aja asik baca koran yang ditempel di papan deket parkiran. Baca sebelah2an. Sama2 ga fokus baca. Jantungku waktu itu berdegup ga karuan. Ga peduli yang di kelas sudah pada mulai belajar. Manfaatin toleransi keterlambatan 15 menit. Hahaha...

Waktu acara kemah pramuka yang aku tahu dia selalu menoleh memastikan aku sudah menyeberang sungai dengan selamat baru kemudian dia meneruskan langkah. Dan waktu malam api unggun dia dan teman2nya dengan usil menyorotkan cahaya senter ke arahku. Kemudian aku memprovokasi teman2ku satu regu waktu acara persembahan dari tiap regu, supaya regu kami menyanyikan lagu ‘Hanya Kau Seorang’ yang memang secara khusus kutujukan untuknya. Ihiiir....

Waktu kelar dari study tour ke Bali dan kita sama2 mo ngumpulin laporan, dia ma temennya nyamperin dan nanya tentang laporan mereka. Terus aku buka2 laporan kelompoknya dan dengan serius aku kasih saran. Hihi... dia ga tahu betapa deg2annya aku waktu itu.

Setelah masa ujian sekolah, dia dan teman2nya sesudah pulang sekolah nongkrong di depan kelasku, saat itu aku dan beberapa temanku duduk di pendopo depan kelas. Dia menyanyikan ‘I miss u like crazy’nya The Moffat dengan diiringi gitar. So sweeeeeeet......

Waktu jelang kelulusan, aku dateng ke kelasnya minta tanda tangan teman sekelasnya yang kukenal di baju seragamku. Pengin minta tanda tangannya, rasa gengsi yang teramat sangat menghambatku untuk meminta dulu padahal aku sangat ingin dan akhirnya aku ga dapat tanda tangannya padahal dia ada di deketku sibuk menanda tangani baju temen2nya sambil ketawa-ketiwi memperhatikanku. Hiks...
Terlalu banyak cerita zaman SMA. Berlembar-lembar pun akan cukup untuk diceritakan. Hahahaha...
Tapi ya dasar anak2 SMA yang sama2 tidak tahu harus memulai dari mana, akhirnya sampai kita lulus pun masih begitu2 saja. Sedihnya waktu itu. Bisa dibilang kasih tak sampai atau kasih tak terungkap.

Zaman kuliah rasanya tidak perlu kuceritakan. Rasanya aku dulu pernah sekilas menulis. Cuma ada seseorang yang dulu waktu kuliah yang aku tahu dia care padaku. Aku beberapa kali memergokinya sedang memperhatikanku. Sebenarnya klo dia mau terus terang mungkin aku akan mempertimbangkannya, tapi dia sepertinya tidak punya keberanian untuk ngomong terlebih setelah tahu klo teman baiknya menyukaiku.
Pernah suatu ketika kita ada acara bersama teman2 kampus menginap di pantai, sebenarnya aku ada kesempatan untuk berboncengan dengannya menuju pantai dari Wonosari, karena sebagai panitia aku harus prepare segala sesuatu duluan. Tapi temenku cewek yang mengeluh pusing klo harus naik bus, kekeuh minta berboncengan dengannya. Aku geli melihat muka dongkolnya. Dia berusaha membujuk temenku untuk naik bus saja tapi temenku tetep tidak mau. Akhirnya aku yang mengalah. Hihi...
Tapi bukan dia cowok yang berhasil membuatku mewek2 waktu itu. Ah lupakan masa kuliah.

Cerita di Bandung. Hihi rasanya lebih baik aku tidak usah cerita. Takut ada yang baca bikin aku malu. #tutupmuka
Yang jelas aku pernah menyukai seseorang yang aku tahu sebenernya aku ga pengin suka, karena sejak awal aku tahu akan ada sangat banyak ketidakcocokan selain faktor usia yang dia beberapa bulan lebih muda, tapi waktu tersadar aku sudah menyukainya. Aku benar2 bersemangat jika ketemu dia. Tapi akhirnya aku tahu, yang aku pikirkan tentang dia ternyata salah. Penafsiranku tentang mimpi2 yang selalu menghantuiku juga salah.
Dan aku tahu, Tuhan menjawab doa2ku. Jika memang jodohku tolong dekatkan, tetapi jika bukan tolong jauhkan. Ternyata akhirnya kami dijauhkan.
Ya, itu jawaban-Nya atas doa2ku.

Jika ditanya bagaimana jika suatu saat aku harus bertemu dengan mereka2 yang pernah mewarnai hidupku. Haha... Ada yang aku ga peduli, tapi ada juga yang aku merasa lebih baik tidak ketemu. Toh kami sudah menikmati hidup kami masing2 sekarang ini. 

Dan sekarang...
Aku lagi menikmati kesendirianku.
Meskipun kadang berkelebat rasa bimbang, tapi aku masih takut untuk melangkah. Masih ada rasa tidak yakin dan ketakutan untuk memutuskan hal yang salah.
Biarlah Dia yang memimpin langkahku, aku tahu itu yang terbaik untukku.



PUNYA TEMAN ATAU TIDAK PUNYA TEMAN

Aku tiap kali lihat ada anak sekolah yang ke kantin sendiri, bayar uang sekolah sendiri, ngurus administrasi sendiri, pokoknya ke mana2 sendiri, suka ga tega. Anak2 yang lain ke mana2 setidaknya ada yang menemani, paling tidak berdua. Pasti anak itu merasa kesepian. Semoga dia tidak menjadi minder dan tidak merasa tidak disukai atau dikucilkan dari pergaulan.

Aku jadi ingat zaman sekolah dulu. Aku tahu benar rasanya tidak punya teman itu benar2 tidak enak. Aku sih sejak SD selalu punya teman dekat, bahkan boleh dibilang nge-gap atau punya geng sendiri. Hahaha.... sebenarnya tidak baik juga.

Waktu SD secara tidak sadar aku membentuk kelompok dengan teman2 yang pintar. Haha... aku sih baru sadarnya sekarang klo geng-ku waktu itu anggotanya anak2 pintar yang selalu dapat renking di sekolah. Ya, kita selalu kompakan membahas PR, latihan soal2. Kita bersaing secara sehat memperebutkan renking 1. Tapi aku waktu SD tidak pernah bisa dapat renking 1. Renking 1 selalu menjadi milik teman baikku waktu itu. Selain itu kita juga aktif jadi misdinar di gereja yang sama. Itu yang membuat kita jadi semakin dekat. Waktu itu anggota gengku cewek2 semua. Dengan teman cowok waktu SD belum bisa dekat, karena kita saling dipacok-pacokkan atau dijodoh-jodohkan, jadi klo ketauan ngobrol sama yang dipacokkan nanti jadi heboh, malu sendiri.

Dulu ada satu teman cewek yang punya pengaruh besar di kelas. Semua anak, baik cewek atau cowok takut padanya. Klo ada seorang teman yang lagi dimusuhinya, semua anak jadi ikut-ikutan memusuhi anak tersebut. Aku pernah merasakan dimusuhi anak itu, dan aku jadi benar2 sendirian, kesepian, karena tidak ada anak yang mau dekat2 denganku lagi. Tapi aku tahu bagaimana cara agar anak2 tidak memusuhiku lagi. Ya dengan cara mengambil hati anak yang paling ditakuti. Caranya dengan membawa majalah AMI ke sekolah. Haha... dia suka banget baca majalah. Akhirnya aku berbaikan dengannya dan secara otomatis anak2 yang lain pun tidak menjauhiku lagi. Hihi...

Di SMP aku mendapatkan banyak teman2 baru. Di kelas 1 aku masih dekat dengan salah satu teman dekatku waktu SD  karena kita satu kelas, tapi terpisah dengan 1 teman yang lain karena kita beda kelas. Dan aku mendapat 1 teman baru. Ke mana2 kita selalu bertiga waktu itu. Situasi berubah setelah aku duduk di kelas 2. Aku pindah duduk sebangku dengan teman SD yang terkenal badung itu. Hahaha... maaf. Aku jadi ketularan badung dan nilai2ku lumayan merosot. Karena dekat dengannya entah kenapa dia mempengaruhiku untuk menjauh dari teman dekatku waktu SD. Kasihan, dia suka dibully karena dia anak dari salah satu guru yang anak2 kurang suka dengan cara mengajarnya.
Aku menyesal belakangan setelah lulus dan tidak satu sekolah lagi. Dia pasti merasa sedih, merasa ditinggalkan. Tapi dia orangnya baik banget. Ga pernah marah dan tetap baik padaku meskipun mungkin dia tahu aku mulai menjaga jarak.

Guruku yang tahu pergaulan membawa dampak buruk padaku, memindahkan dudukku menjadi paling depan, dekat dengan meja guru. Haha matilah kau. Harus benar2 menyimak pelajaran. Tapi sebenarnya ada untungnya juga buatku. Aku tidak nyaman dengan budaya mencontek. Saat duduk di belakang temanku suka pada mencontek waktu ulangan. Dan ada yang terang2an menyalin jawabanku dan aku terpaksa mengizinkannya karena rasa tidak enak. Sejak kembali duduk di depan, catatanku kembali rapi karena aku tidak bisa lagi nyambi2 pas pelajaran. Dan tidak ada lagi yang berani mencontekku waktu ulangan. Kecuali salah satu teman cowokku yang mejanya bersebelahan denganku. Dia anaknya pandai. Kadang2 klo ada kesempatan kami suka saling menanyakan jawaban dengan kode2 di tangan yang hanya kami sendiri yang tahu kodenya bagaimana. Hahahaha...

Setelah aku di Bandung, aku sempat berkomunikasi dengan seorang teman cowok yang dulu beda kelas dan aku waktu SMP sama sekali belum pernah ngobrol dengannya. Dia bilang, aku dulu kan bertemannya hanya dengan anak2 pintar saja. Sedangkan dia kan tidak termasuk anak pintar. Haha... begitukah? Aku sendiri tidak merasa begitu. Sepertinya teman2 yang lain merasa sungkan mendekat karena kita sangar2 dan cukup mendominasi dan termasuk kesayangan guru2 waktu itu. Belakangan aku tahu klo cowok itu dulu di kelasnya juga termasuk anak pintar dan mendapat renking. Aku tidak banyak kenal dengan anak kelas B. Entah kenapa dulu kelas A rasanya lebih menonjol karena anak2nya lebih berpengaruh.

Memasuki SMA, teman2ku baru semua karena tidak ada satupun yang kukenal waktu itu. Aku berkenalan pertama dengan seorang cewek mungil yang rumahnya ternyata tidak jauh dari rumahku. Aku sempat duduk sebangku dengannya. Belakangan aku dekat dengan teman cewek yang lain yang kemudian menjadi sohibku, bahkan kita masih saling berkomunikasi sampai sekarang.

Mungkin saat aku kemudian mulai dekat dengan temanku yang satunya, temanku yang sebelumnya merasa aku tinggalkan juga. Tapi ya mau bagaimana, berteman baik membutuhkan kecocokan satu sama lain. Aku berteman sangat dekat dengan temanku ini. Ke mana2 selalu berdua, duduk selalu sebangku, pulang sekolah juga bareng. Aku ingat banget, saat study tour ke Bali, aku ga boleh masuk ke Pura Besakih karena sedang dapet dan itu dilarang keras masuk, aku kekeuh minta temanku ini untuk masuk saja sedang aku akan menunggu di luar, dia tidak mau masuk dan memilih menemaniku. Huehue... terharu. Dia baik banget. Kami kemudian terpisah saat di kelas 3 karena kami berbeda jurusan. Sedih juga waktu itu. Sebenarnya waktu itu gengku ada 4-5 orang. Yang dekat banget sih ber-4 waktu itu.

Di kelas 3, aku duduk sebangku dengan seorang teman yang lain dari gengku ber-5 sebelumnya. Sebenarnya ada rasa ga enak juga dengan teman sebangkunya sebelumnya. Tapi untunglah hubungan kita tetap baik2 saja sampai kemudian kita lulus.

Waktu kuliah D3, masa ospek aku dekat dengan 2 orang, kemudian ospek selesai, mulai kegiatan di kelas, aku mulai dekat dengan dua orang yang lain dan kita ke mana2 selalu bertiga. Kita tetap berkomunikasi baik sampai sekarang, bahkan hubungan kita sudah seperti keluarga. Cuma waktu itu salah seorang temanku yang pernah dekat waktu ospek sempet nyeletuk, ‘Punya teman baru, terus lupa ma teman sebelumnya.’ Hehe.. aku cuma ketawa aja. Tapi hubungan kita ga jadi buruk karenanya.

Aku terpisah dengan 2 temanku ini karena dengan terpaksa aku lulus duluan 1 semester dari mereka. Hahaha.... Tapi aku tetap 1 kost dengan salah satu temanku ini. Aku melanjutkan S1 dan di sana aku punya teman2 baru yang sebelumnya berbeda kelas. Aku jadi dekat dengan anak2 pintar yang rata2 lulus cumlaude. Hehe... Jadi bisa saling bertanya klo ada yang ga ngerti. Aku juga jadi dekat dengan kakak2 angkatan yang kemudian jadi sekelas denganku. Mereka banyak nanya dan suka pinjam catatan atau tugas. Aku baru sadar, selama kuliah D3 aku nge-gap dan jadi kurang gaul. Teman2ku ini yang pada komen, ‘Dulu kamu mah kemana2 bertiga, kayak ga butuh teman yang lain.’Haha... aku cuma ketawa aja. Ternyata begitu ya pendapat mereka tentang kami.

Kebiasaan bikin geng ini juga berlanjut sampai sekarang. Ada geng temen kos. Penghuni baru yang ga dekat ma kita2 kebanyakan terus hengkang. Tapi belakangan kita semua satu kost dekat semua, bahkan setelah semua keluar dari kost kita tetap dekat sudah seperti keluarga.

Mempunyai teman baik itu perlu. Karena kepada mereka lah kita bisa percaya, bisa minta bantuan saat benar2 perlu. Tapi kita juga jangan lantas menutup pergaulan dengan yang lain. Bersikap baik pada semua orang karena ada orang yang memusuhi kita itu rasanya tidak nyaman banget. Tapi juga tetap jaga jarak dengan orang2 yang kita tahu reputasinya seperti apa. Toh semua demi kebaikan kita.

Cuma, dengan orang2 yang sendiri dan tidak punya teman, kita harus mau menyapa dan memberi perhatian biar dia tidak merasa sendirian.

Karena itu aku selalu berusaha menyapa dan bersikap hangat dengan anak2 yang aku tahu ke mana2 dia selalu sendirian biar dia ga merasa benar2 sendirian. Kasihan, hari2nya di sekolah pasti berasa lama banget dan pengin cepet2 lulus.


Oktober 12, 2015

ORANG ITU JUTEK BANGET YAAAA......

Orang itu jutek banget yaaa.... Sepertinya aku tidak akan bisa bertemen dengannya.
Kadang2 aku suka menjudge orang duluan meskipun hanya dalam hati. Menjudge seseorang sebelum aku benar2 kenal orang itu. Kadang karena ketika berpapasan kuajak senyum dia ga mau senyum dan habis itu aku kapok untuk tersenyum padanya lagi saat berpapasan. Atau karena saat aku mencoba membuka percakapan dengannya dia bersikap dingin, menjawab sepatah-patah atau pertanyaanku diabaikannya begitu saja dan dia sibuk ngobrol dengan orang lain.

Mungkin memang tak kenal maka tak sayang. Malahan beberapa orang yang tadinya kuanggap orang itu jutek dan tak bersahabat, sekarang ini aku malahan berteman baik dan ada yang jadi dekat dan menjadi sahabatku. Ternyata orangnya ramah, penuh perhatian, rame. Mungkin karena waktu itu belum kenal, dia bersikap hati2 pada orang yang belum kukenal.
Ya... sebenarnya sama aja denganku sih. Aku susah untuk percaya dengan orang yang baru kukenal. Terkadang ada orang yang menyapaku juga kutanggapi dengan dingin jika aku merasa sikapnya aneh dan mencurigakan.

Seperti halnya ketika sedang di dalam perjalanan. Baik di kereta ataupun di angkot. Terkadang aku merasa penumpang di sebelahku atau depanku itu orangnya tidak ramah dan tidak peduli dengan sekitar. Mana anaknya yang masih kecil annoying banget. Tapi saat aku mencoba untuk mengajak ngobrol anaknya, berusaha memahami anak itu usil karena mungkin dia merasa bosan, orangtuanya pun jadi begitu ramah padaku. Kami terus mengobrol banyak hal dan aku membiarkan anaknya bermain-main dengan ujung jaketku atau gantungan kunci tasku.
Ya... perjalanan jadi berasa lebih menyenangkan.

Ada teman2 dekatku dulu zaman sekolah, yang setelah lulus dan kami melanjutkan ke sekolah yang berbeda, hubungan kami setelah itu menjadi tidak dekat lagi. Saat mencoba berkomunikasi lagi, kami tetap tidak bisa sedekat dulu. Ada juga teman yang ketika kuajak berkomunikasi di medsos, sama sekali tidak ada respon. Ya, mungkin dunia kami sekarang sudah berbeda. Rasanya jadi tidak mengenal sosoknya yang dulu lagi.
Tetapi ada juga teman yang dulu saat bersekolah kami tidak pernah dekat karena kami dulu punya gap masing2, dan  saat itu kami merasa tidak ada kecocokan karena terkadang ada diantara kami yang saling berselisih, tapi sekarang setelah sekian lama tidak bertemu dan akhirnya bertemu di media sosial, akhirnya kami menjadi begitu dekat dan sangat dekat. Yaaa.... pengalaman hidup, pola pikir kami yang lebih terbuka sekarang membuat kami lebih gampang bersosialisasi dengan tidak mementingkan ego masing2. Kami jadi bisa melihat sisi2 baik teman kami. Kami jadi bisa melihat. Ternyata dia baik dan lucu ya, meskipun dulu waktu SMA pelit banget. Hahahaha.....

Yeaah.... teman.
Bertemanlah dengan banyak orang. Tapi ingat. Tetep harus ada batasan2. Kamu sendirilah yang bisa merasakan mana teman yang benar2 tulus dan baik yang benar2 bisa kamu percaya untuk saling berbagi, bertukar pikiran. Jangan sampai privacy-mu menjadi terganggu dan apa yang seharusnya keep it secret jadi tersebar kemana-mana.

Sesungguhnya ada seseorang yang sampai sekarang terus terang menggangguku.
Ada orang yang dulu aku pernah bekerjasama dengannya. Orangnya baik dan ramah. Kalau berpapasan kita pasti saling sapa dan saling melempar senyum. Dengan tiba2 saja beberapa bulan kemudian tiap berpapasan dia jadi suka pura2 tidak melihat bahkan terang2an melengos. Terus terang aku jadi merasa terganggu. Aku salah apa kepadanya.
Ya sudahlah. Sekarang aku berusaha tidak mempermasalahkannya. Bersikap biasa2 seolah-olah tidak ada apa2. Jika dia tidak mau tersenyum ataupun berbicara padaku, ya aku tidak akan memaksa.
Mungkin memang ada sesuatu yang tak tersampaikan dan sepertinya lebih baik tidak tersampaikan.

Hihihi....

MENAHAN DIRI UNTUK TIDAK MARAH

Aku rasanya cape sekali, lelah sekali. Badan berasa lemas dan tidak bertenaga. Rasa mau makan ga enak, mau tidur tapi ga ngantuk. Serial Turki yang biasanya ga pernah kulewatkan tiba2 saja berasa tidak menarik lagi. Benar2 males mo ngapa2in. Ini semua gara2 aku baru saja dimaki-maki orang yang ga kukenal by phone.
Aku ga tahu kenapa dia tiba2 menjadi meledak begitu. Mungkin dia sedang lelah, sama lelahnya denganku. Ya, aku hanya bisa diam. Jika kutanggapi dengan kemarahan yang sama hanya akan memperburuk keadaan saja.

Aku jadi berpikir. Hanya dalam hitungan menit saja setelah ada orang yang memarahiku bisa langsung membuatku lemas tak bertenaga seperti ini. Dada sesak dan tak tahu harus melakukan apa untuk mengatasinya. Mood-ku langsung anjlok. Yang tadinya bersemangat jadi hilang semangat sama sekali. Hohoho... mungkin akan seperti ini juga yang terjadi kepada orang lain jika aku marah2 padanya.

Ya, aku akan berusaha keras untuk bisa mengontrol diriku. Menjaga emosiku agar tidak meledak-ledak. Berpikir dulu 3 menit sebelum mengucapkan kata2 yang bisa jadi akan menyakiti orang lain.
Ya, dalam hal ini aku masih harus belajar banyak.

Semoga aku bisa lebih bijak dalam menyikapi setiap permasalahan.

September 11, 2015

TIBA-TIBA KANGEN MASA SMA

Beberapa bulan belakangan ini, aku n temen2 SMA eks teman sekelas dulu pada intens berkomunikasi di grup WA. Banyak ngobrol, banyak sharing pengalaman, membahas situasi ekonomi, politik dan kegaduhan2 serta kebodoran2 yang belakangan ini banyak terjadi. Berasa bener2 masih kayak zaman SMA.
Becandaan kita, cara kita saling memanggil dengan sebutan zaman SMA, semuanya masih sama dengan keunikan karakter masing2. Yang biasa di-bully pun masih jadi bahan bully-an dan ybs tidak marah karena tahu kita hanya bercanda.
Hanya bedanya, jika topik yang dibahas mulai serius, kematangan teman2 mulai terlihat. Cara pandang mereka sudah semakin dewasa. Berpikiran terbuka dengan semakin luasnya pengetahuan dan wawasan mereka seiring dengan bertambahnya pengalaman di lapangan dan interaksi dengan kalangan yang lebih luas.
Bangganya melihat mereka. Ternyata teman2ku pintar2 dan bijak. Menyikapi setiap isu2 dengan tidak langsung melahapnya mentah2. Mempertimbangkan kondisi global, melihat sejarah, dan berusaha mencari referensi dari sumber2 lain yang bisa dipercaya.

Yeeeeahhh.... teman2ku, kalian hebat. Berbanding terbalik jika melongok grup lain yang masih saja memelihara sikap pesimis, tidak legowo, krisis kepercayaan. Kapan mau maju klo kayak gitu caranya...... Menyedihkan. Dan menasihati orang2 yang pesimistis kayak gini tidak mudah. Biarkan saja. Daripada beradu argumen cuma bikin kita capek hati. Biarkan mereka melihat sendiri fakta di lapangan beberapa tahun ke depan.

Aku percaya, mereka yang saat ini tengah berjuang membenahi yang sudah berpuluh-puluh tahun rusak itu tidak mudah. Perjuangan yang sangat berat ditambah rongrongan dan fitnah dari sana sini. Kita support dengan doa semoga mereka yang saat ini benar2 sedang berjuang bagi bangsa senantiasa dilindungi dan dilancarkan jalannya.

Kembali ke teman2 SMA.
Ketika salah seorang teman mengirim foto udara dari eks sekolah kita dulu, foto terkini. Hoho... semuanya sudah tampak begitu berbeda. Bangunan lama sudah berganti dengan bangunan bertingkat dengan banyak jendela.
Ah, tiba-tiba aku merindukan bangunan sekolahku yang dulu.
Bersama teman2 menelusuri di manakah TKP kejadian2 yang tak terlupakan di masa SMA dulu.
Di mana kantin sekolah tempat dulu kita bisa mendapatkan mendoan colek sambel soto yang asam yang rasanya tak tertandingi. Di mana kita biasa beli soto dan lotek Rp.600,-. Di mana bapak penjual lekker yang nangkring di depan gerbang sekolah. Di mana lokasi kelas 1.1 yang berada di pojokan dekat ruang piket yang menyulitkan kita untuk sewaktu-waktu kabur dari sekolah.

Hohoho.... ga terasa 16 tahun sudah berlalu. Sekarang teman2 sudah memiliki kehidupan baru masing2 dengan keluarga kecil mereka. Tapi persahabatan kita masih tetap sama. Benar semuanya masih sama.
Sama-sama masih belum bisa melupakan kenangan masa SMA.

Jadi ingat pernah baca artikel. Teman sejatimu adalah teman2 di masa SMA.
Ya, itu benar. Bahkan hubungan kami semua sampai sekarang masih begitu baik. Saat terpisah, kemudian saling mencari dan akhirnya berkumpul kembali di kelas yang sama. Kelas grup WA. Dengan ketua kelas yang sama, bendahara yang sama. Haha ketua kelas merangkap bendahara. Karena kita semua tahu sejak dulu memang hanya dia yang bisa diandalkan.
Semoga suatu saat nanti kita bisa menggalang dana lagi untuk amal ya seperti yang kemarin sudah kita lakukan untuk eks guru kita tercinta yang saat ini sedang membutuhkan uluran tangan. Dan semoga Pak Bendaharanya ga kapok untuk menampung sekaligus menyalurkan sendiri aspirasi dari teman2. Haha... Maafkan kami. Tahu sendiri kan bagaimana kita2 ini dari dulu....
Ah... sekali lagi... aku bangga sama kalian.

Tetap semangat teman2..... Miss u all...........

TENTANG ‘SEX’

Bukankah sex itu sesuatu yang tabu untuk dibicarakan, kenapa aku membahasnya di sini. Yee...... aku ga akan mengupasnya secara vulgar. Aku hanya mengupasnya menurut pandanganku saja.
Sex itu apa?
Haha... aku ingat betapa kelabakannya temanku ketika anak lelakinya yang masih kelas 5 SD bertanya ke mamanya. Dan si mama akhirnya melempar tanggung jawab untuk menjawab ke suaminya yang akhirnya bikin suaminya juga bingung musti jawab apa.

Aku juga klo ada anak kecil yang nanya kepadaku, mungkin aku juga akan bingung musti jawab apa. Tapi memang mereka berhak untuk tahu. Mencari tahu dari kita, orang terdekat  itu lebih safe bukan daripada dia mencari tahu ke sumber lain (orang lain atau internet) yang bisa jadi malah akan menjerumuskannya.
Ya, saatnya orangtua belajar  bagaimana cara yang tepat menjelaskan dan memperkenalkan sex ke anak jika si anak mulai ingin tahu dan banyak tanya.

Apakah aku dulu tahu tentang sex dari orangtuaku. Haha... tentu saja tidak. Aku malu untuk bertanya pada mereka dan sama sekali tidak pernah bertanya pada mereka. Aku tahu dari pergaulanku dengan teman2.

Dulu waktu masih kecil, dengan cara berpikir anak kecil. Teman mainku banyak cowoknya. Kita sering mandi di sungai bareng, keluyuran menyeberang sungai dan mendaki bukit bareng. Pokoknya tiap sore sampai jelang maghrib kita pasti maen bareng. Permainan yang seru dan kita tidak pernah merasa bosan.

Dulu dalam pandangan kita, cowok dan cewek klo duduk bareng maen pengantin2an atau tidur bareng, nanti anak cewek bisa hamil. Tapi ya mikirnya masih polos. Berarti aku ma temen cowokku ga boleh duduk bareng maen pengantin2an atau tidur bareng. Pernah waktu itu habis belajar bersama terus tiduran bareng satu ranjang di ranjang nenekku pada berjajar cowok cewek 4-5 orang. Habis itu kepikiran... aduh klo aku hamil gimana ya..... Haha kacau. Zaman kelas 3 SD dulu...

Di kelas 5-6 SD, ada temanku sekelas, cewek, suka bawa majalah dewasa, nyolong minjem punya kakaknya. Isinya ceita2 hot yang sangat vulgar. Dan itu secara sembunyi-sembunyi bergiliran dipinjem anak2 cewek, dibawa pulang ke rumah. Bacanya juga di rumah sambil ngumpet2. Parah bener dah temanku itu. Yang parah sebenernya kakak cowok temenku itu. Hahahaha... Klo sampe ketahuan guru atau ortu bisa dipastikan langsung disetrap ini mah.
Yah, dari situlah akhirnya aku n temen2 SD-ku mulai mengenal kata sex.

Nonton video orang dewasa. Haha... ga usah munafiklah. Yang alim sekalipun pasti pengin tahu juga. Klo untuk yang satu ini, aku nonton juga karena pergaulan. Biasalah anak2 kost, klo ada cerita baru yang lagi heboh, pasti buru2 hunting. Lagian secara usia 17+ sudah boleh nonton kan. Hihi....

Kurasa pengetahuan tentang sex ini wajib diketahui. Supaya kita bisa menjaga diri dan mengontrol diri. Tahu batasan2 mana yang tak boleh dilanggar jika memang belum diizinkan untuk itu. Jangan sampai karena sama sekali tutup mata, akhirnya malah kebablasan dan akhirnya MBA. Yah, ini terjadi pada beberapa temanku yang boleh dibilang mereka paling alim dan ga neko2 dibanding teman2 lain yang lebih urakan.

Cuma aku ga suka dengan orang2 dewasa yang mengangap sex itu wajib hukumnya bahkan seperti kebutuhan primer yang harus didahulukan. Secara terang2an dan tanpa malu merayu orang lain yang notabene bukan pasangannya untuk memenuhi hasratnya. Benar2 tidak tahu etika. Sepertinya mereka menganggap cewek itu hanyalah merupakan alat untuk memuaskan mereka saja. Hhhhhhh.... Aku paling ga suka menghadapi orang2 seperti ini. Jangan sekali2 memberi peluang atau ketika setan sudah bertindak, kamu sudah tidak akan bisa mundur lagi dan tinggal menyesal di kemudian hari.

Aku juga merasa benar2 tidak nyaman ketika suatu ketika pernah diajak oleh kakakku main ke kontrakan teman cowoknya yang aku tidak terlalu dekat dan kudapati mereka sedang nonton blue film. Benar2 jadi salting dan mati gaya. Ga tahu harus berbuat apa. Mau pergi ga enak ma kakakku, mau ikut nonton rasa ga nyaman nonton bersama cowok2 itu. Huehue.....

Ya, tak bisa dipungkiri, sex itu menarik untuk dibicarakan dan menarik minat banyak orang meskipun dibicarakan secara sembunyi2. Dan di beberapa grup yang aku ikuti pun, sesekali anak2 cowok menyelipi candaan dengan hal2 yang menjurus. Klo sudah begini, anak2 cewek memilih diam, pura2 tidak baca, atau kasak kusuk di belakang dengan temen2 di grup khusus cewek, saling curhat jika kita mulai merasa tidak nyaman dengan obrolan. Aku pun pernah mengusulkan supaya anak2 cowok bikin grup khusus cowok jika mereka mau membahas yang menjurus2 karena terus terang terkadang kita merasa risi. Tapi mereka tidak mau. Ya.... Sudahlah....
Mungkin ini yang akan membuat hidup mereka berasa lebih hidup.

Sekarang ini, teknologi semakin maju. Kita dapat dengan mudah mengakses berbagai situs. Semoga hal ini tidak menjadikan kita lupa untuk menjaga etika. Tetap menjaga budaya ketimuran. Tetap control diri dan mawas diri.






Juli 12, 2015

PENGALAMANKU MEMPERPANJANG PASPOR DI BANDUNG

Pasporku sebenarnya sudah expired bulan Maret kemarin. Aku memang ingat ingat ga ingat dan ga berusaha mengecek karena malas mengurus perpanjangan mengingat pengalaman waktu bikin dulu musti antri mpe lama di tempat yang crowded banget. Mana jauh lagi kantor imigrasi dari tempatku.

Aku coba browsing2 cara memperpanjang paspor secara online. Caranya mudah. Masuk aja ke website kantor imigrasi www.bandung.imigrasi.go.id karena domisiliku di Bandung.
Klik ‘Layanan paspor online’ kemudian isi form permohonan yang ada di situ sesuai kebutuhan, mau bikin baru, memperpanjang, atau mengganti paspor yang hilang. Persyaratan2 yang diperlukan seperti KTP, KK, akte lahir di-scan kemudian dikirimkan secara online. Kita bisa memilih kapan kita akan melakukan interview dan pengambilan foto. Nanti kita tinggal menunggu notifikasi email.

Karena tidak yakin apakah untuk paspor yang sudah expired bisa registrasi online, aku telp ke kantor imigrasi dan mendapat jawaban bahwa untuk paspor yang sudah expired untuk sekarang ini belum bisa registrasi online, harus datang langsung ke sana. Yaaah, salahku sendiri sih.

Oh ya, dari website imigrasi ini aku jadi tahu klo ada kantor imigrasi baru di Jln. Soekarno Hatta No. 162 Gedung Bina Citra lt. 3. Wah..... senangnya. Soekarno Hatta dari tempatku dekat, tinggal lurus saja. Jadi ga harus jauh2 ke kantor imigrasi yang di Jl. Surapati No. 82.

Akhirnya tgl 2 Juli kemarin, kuputuskan untuk pagi2 datang ke kantor imigrasi yang di Jl. Soekarno Hatta. No. 162 berarti daerah Caringin. Ya, aku tahu daerah itu. Jelang Lebaran, Bandung macet parah. Yang seharusnya bisa kutempuh dalam waktu ga sampai 20 menit, aku menghabiskan waktu 30 menit lebih karena jalan begitu crowded. Sampai di no. 170 aku kebingunagn. Sama sekali tidak ada gedung bertingkat di situ. Kudapati sedang ada perbaikan jalan. Tanya beberapa orang di situ ga ada yang tahu. Kupikir mungkin aku sudah kelewatan tempatnya. Akhirnya aku putar balik lagi dan tetap saja tidak menemukan. Mencoba menelepon kantor imigrasi baik yang di Soekarno Hatta maupun yang di Jl. Surapati tidak ada yang mengangkat. Akhirnya aku menyerah sudah. Lelah, letih, lemes, sudah keringetan. Kuputuskan untuk pulang saja kembali ke kantor dan esok hari mengurus di imigrasi Jl. Surapati saja.

Setelah hampir mencapai perempatan Soekarno Hatta-Moh. Toha, mataku terpaku pada gedung di sebelah kanan jalan. Gedung Bina Citra – kantor imigrasi. Olala.... ini yang aku cari. Sudah pk.09.30. Sudah kesiangan memang, tapi gapapalah tanggung pikirku. Akhirnya aku mencoba masuk ke sana.

Gedung Bina Citra di lt. 1 dipakai Bank Mandiri dan Bank BNI. Di pojokan ada semacam kafetaria kecil. Di samping lift ada toilet. Saat mau naik lift aku ragu, tertulis lift hanya untuk lansia dan penyandang difabel. Wah... haruskah aku ke lantai 3 naik tangga. Rasa enggan. Aku menunggu ada orang lain dan bertanya kepadanya. Dia tertawa. ‘Gapapa... pake lift aja’
Yes!!! Jadilah aku naik lift.

Rada bingung dengan sistem antrian di sana. Waktu aku tanya, katanya no antrian sudah habis. Memang harusnya aku ke sana pagi2. Aku bertanya pada security di sana, katanya aku duduk saja diantara pengantri yang lain. Menunggu giliran pemeriksaan berkas. Nanti tinggal bergeser kursi sesuai urutan. Setelah menunggu 30 menit, tibalah giliranku. Dan aku ditolak saudara2, disuruh pulang lagi karena aku ga bawa akte lahir asli. Huehuehue... akte lahirku ada di Yogya. Dulu waktu mengurus di Jl. Surapati aku ga pake akte lahir asli, tapi pake FC akte lahir yang sudah dilegalisir dan diperbolehkan. Aku sudah tidak punya stock FC akte lahir yang dilegalisir.

Bapak petugas pemeriksa bilang klo ga ada akte lahir asli, ijazah juga bisa. Kan bisa lihat nama orangtua di sana. Wah, ijazah terakhirku mah ga ada tertera nama orangtua. Lagian saat itu aku juga ga bawa ijazah asli.
Bapak itu bilang, suruh datang pagi2, biar ga ngantri lama. Wah langsung deh aku curhat ke si Bapak, klo aku sebenarnya sudah berangkat pagi2 dan kebingungan mpe putus asa nyari ni alamat. Gimana ga bingung, Jl. Soekarno Hatta No. 162 yang kutemukan di daerah Caringin sana, itu bengkel las kecil mepet jalan. Sedangkan gedung Imigrasinya pas kuperhatikan, di gerbang depan tertulis Jl. Soekarno Hatta No. 354, di gerbang dalam dan di papan nama gedung tertulis Jl. Soekarno Hatta No. 162. Tuing... tuing.... Pokoknya klo nyari gedung Imigrasi berada di sebelah persis gedung BCC (Bandung Convention Center). Dan memang susah nyari alamat di Jln. Soekarno Hatta Bandung. Lieur. No-nya loncat2 ga jelas.

Akhirnya pulanglah aku dengan sedikit kecewa karena gagal mengurus pasporku hari itu plus rasa lega karena akhirnya kutemukan juga kantor imigrasinya. Setidaknya nanti lagi klo ke sini lagi aku sudah tidak pusing lagi.

For safety, aku minta babe mengirimkan akte lahirku, sekaligus aku minta surat pengantar bikin paspor dari kantor, untuk berjaga-jaga saja. Aku ga mau musti bolak-balik lagi, membuang-buang waktu. Dulu waktu bikin paspor pertama kali, memang diwajibkan membawa surat pengantar dari kantor. Saat aku telp ke kantor imigrasi, katanya untuk perpanjangan tidak perlu surat pengantar dari kantor. Tapi aku takut klo yang terjadi di lapangan berbeda, karena bagian pemeriksaan berkas lumayan streng. Banyak yang harus bolak-balik mengurus ini itu. Seperti contoh, ada seorang ibu yang musti beberapa kali bolak-balik karena nama di KTP dan akte lahirnya berbeda, hanya berbeda satu huruf saja ‘i’ dan ‘y’. Dia musti bawa surat pengantar dari RT, RW, Kelurahan, dan Kecamatan. Kemarin surat pengantar dari RT, RW dan kelurahan dia sudah bawa. Dari kecamatan tidak bawa karena waktu di kelurahan dibilang tidak perlu ke kecamatan. Ternyata kantor imigrasi mengharuskan ada surat pengantar dari kecamatan. Akhirnya si ibu ini harus pulang lagi dan mengurus ke kecamatan. Untung rumahnya di Bandung. Ada Ibu2 yang rumahnya di Garut, dia juga musti bolak-balik karena surat2nya tidak lengkap. So..... untuk diperhatikan, saat mengurus kartu2 identitas kita (termasuk rekening tabungan kita, aku pernah dibikin pusing karena berbeda nama, kurang huruf ‘s’ di KTP dan aku tidak meralatnya) pastikan nama kita sesuai dengan akte lahir. Biar ga repot ke depannya.

Setelah akte lahir asli dan surat pengantar dari kantor sudah di tangan, dengan pede hari rabu, 8 Juli aku kembali ke kantor imigrasi. Saat aku sampai di sana, antrian belum banyak. Dan ternyata saat mo periksa berkas memang tidak ada no antrian. Duduk berurutan aja menunggu giliran. Tanya2 yang di sana, mana yang antri mo periksa berkas. Sampai giliranku semua lancar. Berkas2ku lolos semua. Nanti kita dikasih 2 form isian plus map warna kuning, serta no antrian. Form 1 berupa isian data kita, form 2 berupa surat pernyataan bermeterai. So.. jangan lupa bawa meterai Rp.6.000,- satu buah. Klo terpaksa ga bawa, di koperasi di sana ada dijual. Di koperasi juga melayani jasa fotocopy. Sedangkan aku saat itu form isian data sudah kuisi dari rumah. Waktu datang sebelumnya dan aku harus pulang karena ga bawa akte lahir asli, aku sekalian minta form isian, biar bisa kuisi di rumah. Pesen bapaknya, ngisinya ga boleh salah, klo salah ga akan diganti. Hehe... siap!!!!

Setelah diperiksa, kita tinggal nunggu dipanggil sesuai no antrian. No antrian yang dipanggil nanti akan tertera di papan display elektrik. Dipanggil bergantian antara yang antri interview dan antri pengambilan paspor. Ruang interview di sebelah kiri, sedang loket pengambilan paspor jadi, di sebelah kanan.

Aku tidak perlu waktu lama untuk menunggu giliranku. Saat proses kroscek data cuma sebentar, lanjut foto, pengambilan sidik jari 10 jari tangan dan sedikit interview. Setelah itu kita akan diberikan surat pengantar pembayaran ke Bank BNI di lt. I, dan surat pengantar untuk pengambilan paspor 3 hari kemudian.
Pembayaran ke bank, baik bikin paspor baru ataupun perpanjangan sama biayanya, Rp.355.000,-.
Semua urusanku bisa kubereskan pk.10.00 pagi. Cepat ya. Dan aku bisa mengambil paspor di hari Senin, karena melewati 2 hari libur Sabtu & Minggu.

Dan tadi, aku baru saja mengambil pasporku. Datang mengambil no antrian di mesin bagian informasi dengan men-scan barcode di pengantar pengambilan paspor yang dihexter jadi satu dengan bukti pembayaran bank. Aku tadinya bingung gimana caranya ambil no antrian. Jadi dibantu oleh bapak security. Untuk mengambil paspor, kita menyerahkan surat pengantar pembayaran berikut bukti pembayaran bank. Menunggu ga sampai 30 menit, aku sudah mendapatkan paspor baruku. Yeaaay.....

Sedikit tips:

  •  Aku lupa ga mengambil cover paspor lamaku, jadi we ikut ditarik kembali oleh kantor imigrasi. So, klo mo balikin paspor lama jangan lupa ambil covernya. Aku jadi harus beli lagi di koperasi yang ada di sana. Cuma Rp.5.000,- sih. Tapi kan sayang, cover yang lama masih bagus.
  • Saat mau interview dan foto, jangan pake baju atau kerudung putih. Karena background foto berwarna putih. Kemarin ada yang pake kerudung putih, disuruh ganti kerudung dulu baru bisa berfoto. Dan terjadilah transaksi pinjam-meminjam. Untung ya, biarpun pada ga saling kenal, ada yang berbaik hati mau meminjamkan. Aman pake warna gelap.
  • Toilet di lt.3 masih dalam perbaikan, so klo mo ke toilet, yang bisa dipake di lt. 1. Musti naik turun lift. 
  • Sebaiknya datang pagi2, supaya ga mengantre lama. Tadi saat aku ambil paspor, antrian panjang banget, mpe kursi pada penuh. Karena sudah mulai libur Lebaran mungkin ya. Untung antrean di tempat pengambilan paspor tidak banyak. Antrean pengambilan paspor baru mulai dipanggil pada pk.08.30,  sedangkan bagian interview mulai lebih awal, yaitu pk.08.00 pagi. Oh ya, batas ambil no antrian pk.11. siang. Jadi jangan datang lewat dari jam itu.

Kantor imigrasinya sekarang sudah keren, sudah lebih modern. Pintu bagian pelayanan pun yang buka tutup otomatis. Tempatnya bersih, rapi, luas dan adem. Yang menunggu pun merasa nyaman. pokoknya jangan segan2 mengurus paspor sendiri. 

Aku sebenarnya pengin bikin paspor elektrik. Harganya lebih mahal memang, Rp.600.000,-. Soalnya Amerika dan beberapa negara di Eropa sudah mewajibkan paspor elektrik ini, demi kemudahan proses identifikasi data. Dan jika mau dapat bebas visa ke Jepang, juga musti pake paspor elektrik. Tapi repot. Di Bandung belum bisa. Yang terdekat musti ngurus ke Jakarta.
Hehe.... emang kapan mo ke Amerikah, Eropah atau Jepang. Hahaha..... :p

Just info. Libur Lebaran kali ini, Kantor imigrasi tutup dari tanggal 16 juli sampai dengan 21 juli.
Demikian catatan panjangku, semoga bisa membantu.